Populer: Saham Sritex Terancam Didepak BEI; Sulitnya Bisnis Kereta Cepat

  • Whatsapp

Pabrik Sritex Sukoharjo. Foto: Dok. SritexPT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias PT Sritex, terancam terdepak dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan tekstil yang diklaim terbesar di Asia Tenggara, itu berpotensi dikeluarkan dari perdagangan saham.Kabar tersebut jadi salah satu berita populer ekonomi bisnis, Senin (23/11). Kabar lainnya yang juga ramai, soal beratnya bisnis kereta cepat. Berikut rangkumannya:Kata Sritex soal Terancam Didepak dari BursaManajemen Sritex buka suara terkait status perusahaan terancam delisting alias dikeluarkan dari pasar modal. Kabar itu disampaikan BEI setelah emiten berkode SRIL dihentikan perdagangan sahamnya atau suspensi sejak 18 Mei 2021.Direktur Keuangan Sritex, Allan Moran Severino, menjelaskan suspensi yang dialami saham SRIL karena pihaknya tak bisa membayar obligasi jangka menengah atau medium term notes (MTN). Hal itu terjadi karena perusahaan sedang digugat PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) sejak Mei 2021.”Saat ini perusahaan sedang menjalani proses PKPU sejak Mei 20121. Hal ini membuat perusahaan tidak boleh membayar utang secara terpisah dan harus mengikuti prosedur selama PKPU berjalan,” kata Allan, Senin (22/11).Berat Bisnis Kereta Cepat, Jepang dan China Bahkan MerugiIlustrasi kereta cepat Foto: Karin-Karin/PixabayBisnis kereta cepat terasa berat karena ikut terdampak oleh pandemi, termasuk yang terjadi di China serta Jepang, dua negara maju dalam pengelolaan transportasi massal jenis itu. Proyek serupa, kini telah dibangun Indonesia bernama Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB).BUMN pengelola kereta cepat di China, China State Railway Group Co (China Railway) pada semester I 2021 melaporkan kerugian sebesar 50,7 miliar yuan atau setara Rp 113,3 triliun.Kerugian besar juga dialami pengelola kereta cepat Jepang, yang merupakan perintis sarana transportasi massal ini. Central Japan Railway yang mengoperasikan kereta cepat shinkansen rute Tokyo-Osaka, per 31 Maret 2021 mencatat kerugian 201,5 miliar yen atau sebesar Rp 25,2 triliun.

Pos terkait