Gotong Royong Catatan Tradisi Yang Bertahan, Dibalik Duka dan Air Mata Korban Gempa, di Selayar

BERITA iNEWS, SELAYAR — Gotong royong memindahkan dan membangun rumah, merupakan satu dari sekian banyak deretan adat dan tradisi masa lampau yang pernah hidup dan tumbuh turun temurun di tengah-tengah lingkungan kehidupan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Tradisi yang dulu merupakan ciri khas kebersamaan masyarakat kota Bumi Tanadoang, terkhusus di daerah pedalaman terpencil daratan Pulau Selayar.

Namun sayang, karena seiring berjalannya waktu, gambaran solidaritas, kekompakan, dan kebersamaan tersebut, perlahan mulai tergerus oleh perputaran roda zaman.

Beruntung, karena nilai-nilai kearifan lokal itu, rupanya masih tumbuh mengakar dan bisa dijumpai di sejumlah titik-titik tertentu, di wilayah pedalaman terpencil kota yang dulu populer dengan sebutan penghasil jeruk manis itu.

Warisan budaya leluhur yang dulu menjadi lukisan harmonisasi, dan kentalnya nilai-nilai persaudaraan masyarakat Selayar, kini bisa dijumpai salah satunya, di daratan Desa Garaupa Raya, Kecamatan Pasilambena.

Nama ibukota desa yang lahir dan diilhami oleh pemekaran Desa Garaupa.

Salah satu dari enam desa pesisir Pulau Kalao Toa, yang dihuni dan didiami oleh kurang lebih dua ratus lima puluh orang kepala keluarga (KK).

Fakta dan realita ini, terungkap pasca terjadinya bencana gempa bumi berskala 7,5 SR yang pada hari, Selasa, 14 Desember 2021 silam, sempat menggetarkan sejumlah titik wilayah di Kabupaten Kepulauan Selayar, sampai daratan kota Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Tak berselang lama, setelah bencana gempa, puluhan unit bangunan rumah yang rusak, dan bahkan sempat rata dengan tanah, berangsur-angsur mulai dibangun bersama oleh warga dengan melibatkan unsur pemerintah desa, perangkat kepala dusun, serta elemen relawan bencana.

Bekal solidaritas dan kekompakan, menjadi modal dasar bagi warga di empat wilayah desa, dan sembilan dusun, di daratan Pulau Kalao Toa, untuk menyongsong tahapan normalisasi kehidupan pasca getaran gempa.

Perlahan tapi pasti, warga berangsur-angsur mulai membenahi bangunan rumah, dan mendirikan hunian darurat (hundar) menyerupai bangunan pondok yang dibangun secara swadaya oleh warga, sebagai pengganti tenda pengungsian.

Warga bahkan turut mempelopori dan menjadi promotor penggerak terbangunnya tanggul-tanggul darurat di sepanjang pesisir pantai Desa Latokdok, dan Lembang Mate’ne yang dibuat hancur berkeping-keping oleh bencana gempa bumi.

Sebuah catatan, dan pemandangan langka, tapi nyata yang patut diapresiasi, dicontoh, dan ditauladani dalam rangka untuk menumbuhkan nilai-nilai kemandirian di lingkungan kehidupan masyarakat.

(Andi Fadly Daeng Biritta)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.