Kala Jokowi Minta Harga Tes PCR Turun, tapi Dikritik Ahli Biomolekuler

Bintara Kesehatan KRI Bima Suci mengecek alat PCR di Kapal KRI Bima Suci di Dermaga Armada II, Surabaya, Jawa Timur, Senin (12/7). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTOPresiden Jokowi akhirnya buka suara terkait polemik mahalnya harga tes PCR di Indonesia. Harga tes PCR di RI menjadi sorotan setelah Inda menurunkan harga tes PCR menjadi 500 Rupee atau sekitar Rp 96 ribu.Sementara harga tes PCR di RI di kisaran Rp 600-900 ribu. PCR kini menjadi salah satu syarat wajib bepergian ke luar kota jika menggunakan pesawat.Jokowi mengaku, dirinya sudah meminta Menkes Budi Gunadi Sadikin untuk menurunkan harga tes PCR menjadi Rp 450 ribu-Rp 550 ribu. “Saya sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan soal ini saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000,” kata Jokowi.Jokowi minta Menkes Tetap Harga PCR Rp 450 – 550 ribu. Foto: Youtube/Sekretariat PresidenJokowi menjelaskan, tujuan utama biaya tes PCR diturunkan adalah demi memperbanyak jumlah tes.Selain menurunkan harga tes PCR, Jokowi juga meminta agar hasil tes PCR saat ini bisa diketahui dalam waktu 1×24 jam.”Saya minta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1×24 jam. Kita butuh kecepatan,” ucap Jokowi.Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Amin Soebandrio. Foto: Youtube/@DPMPTSP DKI JakartaEijkman: Harga Tes PCR Bisa Turun Jadi Rp 450 Ribu-Rp 550 RibuKepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, mengatakan bisa saja harga tes PCR di RI menjadi Rp 450 sampai Rp 550 ribu. Namun, harus ada sejumlah biaya komponen atau layanan tes yang disubsidi pemerintah.“Dimungkinkan jika sebagian besar biaya-biaya ditiadakan atau ditanggung pemerintah,” kata Amin.Amin menerangkan, harga tes PCR mahal karena produknya impor. Oleh sebab itu, harga tes PCR di Indonesia belum bisa mencapai di bawah Rp 100 ribu.Tetapi harga tes PCR bisa diturunkan menjadi Rp 450 ribu-Rp 500 ribu seperti permintaan Jokowi, jika bea masuk dan pajak dikurangi atau ditiadakan.“Setidaknya bea masuk dan pajak-pajak,” ucap Amin.Bintara Kesehatan KRI Bima Suci mengecek alat PCR di Kapal KRI Bima Suci di Dermaga Armada II, Surabaya, Jawa Timur, Senin (12/7). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTOSementara Ketua Umum PP PDS PatKLIn, Prof Aryati, menerangkan ada berbagai macam PCR yang masuk ke Indonesia. Namun secara umum, ada dua jenis yang dipakai yakni open system dan closed system.Aryati menuturkan, harga PCR yang bermetode closed system dibanderol cukup mahal oleh distributor. Kata dia, harga tes PCR jenis ini tak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu.“Closed system itu bisa menjamin untuk mengurangi risiko kontaminasi, termasuk keterampilan petugas. Ruangan juga bisa lebih ringkas dan lain-lain. Nah, closed system ini rata-rata jauh lebih mahal daripada open system,” kata Aryati.“Jadi memang agak sulit dibuat harga satu unit PCR. Menurut saya kalau harga buat closed system seperti menggunakan Abbott M2000i, GeneXpert, Pockit, itu harga jualnya dari distributor memang sudah mahal. Enggak mungkin bisa di bawah Rp 700 ribu,” imbuh dia.Lebih lanjut, Aryati menyebut kalau alat tes PCR bermetode open system, bisa dijual lebih murah di bawah Rp 500 ribu. Tetapi, ia mengingatkan masih ada biaya penunjang untuk menjaga kualitas hasil tes PCR. Dikritik Ahli Biomolekuler Karena Kontraproduktif dengan Penanganan COVID-19Ahli Biomolekuler Basti Andriyok mengaku tidak sepakat dengan wacana penurunan harga tes PCR. “Tes itu kan ada beberapa kelompok target, kalau pasien COVID-19 digratisin. Swasta juga [gratiskan pasien] karena nanti diklaimkan ke pemerintah,” kata Basti yang juga merupakan Ketua Pokja Molekuler Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PP PDS PatKLIn).”Lalu ada tracing karena kan itu program pemerintah dan itu biasanya bukan sama swasta. Nah, ada pribadi yang memang larinya ke swasta. Ini simalakama,” tambah dia.Basti menilai, jika menurunkan harga tes PCR akan menjadi kontra produktif dengan penanganan COVID-19. Sebab akan berdampak terhadap penanganan COVID-19.”Kalau kita turunkan harganya tanpa mandang untung rugi dulu ya, ini agak kontradiktif dengan pengendalian pandemi. Kita pengin pandemi cepet selesai, tapi malah nurunin harga yang bikin orang bisa pergi-pergi. Terus agak miris rasanya, ada orang kaya jalan-jalan masa dia bayar PCR cuma Rp 400 ribu, padahal dia mampu. Agak kurang pas,” ucap Basti.Ilustrasi PCR antigen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanOleh sebab itu, Basti berharap ada penggolongan harga yang lebih rinci bagi penerima tes PCR. Ia berharap, penurunan harga tes PCR tak membuat celah negatif bagi orang dengan urgensi rendah.“Mau seneng-seneng kita kasih murah. Itu kan agak kontradiktif. Jadi harus dibedakan kepentingan juga. Dalam arti, kepentingan pribadi bebas aja [harganya]. Nanti terserah orang mau pakai yang bagus atau tidak, itu kan pilihan,” ucap Basti.“Kalau sudah jalan-jalan, atau masuk mal untuk kenikmatan diri sendiri. Harapannya, sih, yang dimaksud Pak Jokowi [penurunan harga] bukan buat yang seperti itu. Kalau dinas, kan, pasti ditanggung perusahaannya. Jadi harus dipilah lagi yang harus dikasih murah dan [yang harus dikasih] kayak tiket ada harga atas ada harga bawah,” tutup dia.

Pos terkait

banner 468x60